DALAM DOA-DOA
Dari tingkap kamar aku
Melihat lumut dan pasir menguning
Bekas bekas cakar kumbang
di puing puing kejayaan taman
Hilang diujung senja tanpa sejarah
¬Aku masih harus berjuang
Menjelang malam pelitaku nyalakan
Dengan cahaya yang usang
Coba hangatkan darah yang memang menggigil
Coba menepis kepasrahan hindarkan dari pikiran
Aku masih harus berjuang
Merangkaki hidup dalam langkah
Tanpa rambu rambu henti
Utuk menghirup harum melati di taman yang dulu
Terlihat dari tingkap kamarku
Sebelum tidur
Doa doa ku susun dalam kata
Hijaukan lumut putihkan pasir
Berilah keharumarunu pada taman bunga
Dan kumbang datang setiap pagi menggarut
Tingkap kamarku sebelum menghisap bunga
Aku masih harus berjuang
Pekanbaru 23-12-06
DI BILIK SUCI
seperti sembilu tumbuh dirusukku
seperti detik waktu yang berbunyi minor
sembilu tumbuh besar semakin tajam
mengoyak daging pemisah tulang-tulang rusuk
dan darah yang keluar tak sebanding sakit pedihnya luka
kalau nanti aku tinggalkan tubuh ini
siapa mau minta atau mencurinya ambillah
tapi tak satupun yang hendak
tapi tak satupun yang menjamah
karena lukanya bernanah dan berbau busuk
namun biliknya kebaikan masihlah terpelihara
meski darah tercecer disetiap sudutnya
mirip peluh ketika panas menyengat pekerja pakasa
tubuh ini mulai hancur layaknya bangkai korban bom atom
dalam bilik ini aku masih mengingat tuhan
meski darah yang keluar tak sanggup aku hentikan
meski nanah yang busuk tak sanggup aku basuh
siapa yang meminta dan mencuri tubuh ini
ambillah namun jangan kau sentuh hatiku
25-01-2007
CATATAN
Rangka ceking bermata galak
Jangan ucapkan itu lagi dan tolong
Jangan sentuh jasadku
Sebut namaku saja dalam geram erangmu
Entah sampai bila masanya
Napas terletak masih disitu
Ubun-ubunku masih berbernyanyi
Dendangkan zikir
Belum saatnya disambut bunga bunga
09-12-2006
SENYUM
Saat aku nikmati senyumnya tadi
Patah jua waktu
Teringat aku akan esok pagi
Yang entah kepan bertmu
Dan langkahku takkan begitu saja patah
Saat aku nikmati senyumnya
Tak layu tak mengulai
Itulah titian berjalan akan kulewati sendiri
Keindahan pada cahaya kedua pipimu
Sudahku cicipi dalam mimpi tadi malam
Cinta ini mulai tumbuh jadi cambah akarnya melilit
Saraf dan keluar di pori pori tubuh ini
Menambatkan aku kokoh dalam kasih sayang untukmu
Saat aku nikmati senyumnya
Damai hidupku
27-04-2005
ASAKU
Angin menerpaku ragu
Api takutkan bakarku
Air bimbang basahkanku
Rinduku padamu telah ku kirim lewat angin
Agar kau tau betapa inginnya aku memelukmu
Pantai cermin,l6 4 2005



20.10
Makna Dalam Kata
0 komentar:
Posting Komentar