Minggu, 08 Mei 2011

kata yang hilang menjelang petang
menidurkan berjuta huruf tanpa makna
menguburkan berjuta letih tanpa rasa

kata yang hilang menjelang petang
hurufnya terpelanting tersampang di kajang
terguling tanpa kalang

kata yang hilang menjelang petang
menitipkan pesan pada lekang malam

Senin, 07 Juni 2010

HARAP

Cahaya senja menghempaskan bayang nyiur di tebing-tebing curam
Sesekali melambai dibelai angin yang turun mendampingi gerimis
Namun ada seorang duduk bercermin di air matanya sendiri
Seakan menyesali pertemuan senja dengan malam
Pertemuannya sebiaspun tak berbentuk rupa
Selepas pandang kemudian aku arahkan kesegala penjuru langit
Mengharap sinar rembulan menerpa nyiur membayang dihatinya
Namun bukan gerimis yang bernyanyi mendayu
Bukan pula angin membelai bayang nyiur yang menari dimatanya
Perlahan bayang lenyap disapu kegelapan

Minggu, 06 Juni 2010

DALAM DOA-DOA

Dari tingkap kamar aku
Melihat lumut dan pasir menguning
Bekas bekas cakar kumbang
di puing puing kejayaan taman
Hilang diujung senja tanpa sejarah
¬Aku masih harus berjuang
Menjelang malam pelitaku nyalakan
Dengan cahaya yang usang
Coba hangatkan darah yang memang menggigil
Coba menepis kepasrahan hindarkan dari pikiran
Aku masih harus berjuang
Merangkaki hidup dalam langkah
Tanpa rambu rambu henti
Utuk menghirup harum melati di taman yang dulu
Terlihat dari tingkap kamarku
Sebelum tidur
Doa doa ku susun dalam kata
Hijaukan lumut putihkan pasir
Berilah keharumarunu pada taman bunga
Dan kumbang datang setiap pagi menggarut
Tingkap kamarku sebelum menghisap bunga
Aku masih harus berjuang

Pekanbaru 23-12-06



DI BILIK SUCI

seperti sembilu tumbuh dirusukku
seperti detik waktu yang berbunyi minor
sembilu tumbuh besar semakin tajam
mengoyak daging pemisah tulang-tulang rusuk
dan darah yang keluar tak sebanding sakit pedihnya luka

kalau nanti aku tinggalkan tubuh ini
siapa mau minta atau mencurinya ambillah
tapi tak satupun yang hendak
tapi tak satupun yang menjamah
karena lukanya bernanah dan berbau busuk
namun biliknya kebaikan masihlah terpelihara
meski darah tercecer disetiap sudutnya
mirip peluh ketika panas menyengat pekerja pakasa

tubuh ini mulai hancur layaknya bangkai korban bom atom
dalam bilik ini aku masih mengingat tuhan
meski darah yang keluar tak sanggup aku hentikan
meski nanah yang busuk tak sanggup aku basuh
siapa yang meminta dan mencuri tubuh ini
ambillah namun jangan kau sentuh hatiku

25-01-2007



CATATAN

Rangka ceking bermata galak
Jangan ucapkan itu lagi dan tolong
Jangan sentuh jasadku
Sebut namaku saja dalam geram erangmu
Entah sampai bila masanya
Napas terletak masih disitu
Ubun-ubunku masih berbernyanyi
Dendangkan zikir
Belum saatnya disambut bunga bunga

09-12-2006



SENYUM

Saat aku nikmati senyumnya tadi
Patah jua waktu
Teringat aku akan esok pagi
Yang entah kepan bertmu
Dan langkahku takkan begitu saja patah
Saat aku nikmati senyumnya
Tak layu tak mengulai
Itulah titian berjalan akan kulewati sendiri
Keindahan pada cahaya kedua pipimu
Sudahku cicipi dalam mimpi tadi malam
Cinta ini mulai tumbuh jadi cambah akarnya melilit
Saraf dan keluar di pori pori tubuh ini
Menambatkan aku kokoh dalam kasih sayang untukmu
Saat aku nikmati senyumnya
Damai hidupku


27-04-2005



ASAKU

Angin menerpaku ragu
Api takutkan bakarku
Air bimbang basahkanku
Rinduku padamu telah ku kirim lewat angin
Agar kau tau betapa inginnya aku memelukmu


Pantai cermin,l6 4 2005

Senin, 17 Mei 2010

TAPUNG

sungai yang tanjungnya sesekali beranjak menapaki tebing-tebing tak bertuah
kini mulai usang terkikis arus palungnya patah
airnya tak lagi mampu membasuh hadas khulifah
dibibir senja nelayan lelah
sungai menyumpah sampah kemudian berzinah dengan limbah
aku menyusuri kenangan yang berserakan di beting kekeringan
sesekali menatap tepian mandi masa kecilku
lalu aku dapati bingkisan kepiluan
sungaiku semakin uzur mengaliri waktu

Minggu, 09 Mei 2010

SINAMANENEK

perjalanan antara kampung ini sesak
kaki orang sinamanenek tak lagi setajam tajak menyibak semak
atau mereka tak lalu di jalan setapak
kerna musim berladang menjelma pipa minyak

desau mengasah pisau tak perlu riasu
kampung seperti pulau berdelau
takkan ada rimau tak perlu galau
namun janga lupa kau, kau, dan kau awas terpukau

Minggu, 25 April 2010

KATA

DALAM DOA-DOA

Dari tingkap kamar aku
Melihat lumut dan pasir menguning
Bekas bekas cakar kumbang
di puing puing kejayaan taman
Hilang diujung senja tanpa sejarah
Aku masih harus berjuang
Menjelang malam pelitaku nyalakan
Dengan cahaya yang usang
Coba hangatkan darah yang memang menggigil
Coba menepis kepasrahan hindarkan dari pikiran
Aku masih harus berjuang
Merangkaki hidup dalam langkah
Tanpa rambu rambu henti
Utuk menghirup harum melati di taman yang dulu
Terlihat dari tingkap kamarku
Sebelum tidur
Doa doa ku susun dalam kata
Hijaukan lumut putihkan pasir
Berilah keharumarunu pada taman bunga
Dan kumbang datang setiap pagi menggarut
Tingkap kamarku sebelum menghisap bunga
Aku masih harus berjuang

Pekanbaru 23-12-06


DI BILIK SUCI

seperti sembilu tumbuh dirusukku
seperti detik waktu yang berbunyi minor
sembilu tumbuh besar semakin tajam
mengoyak daging pemisah tulang-tulang rusuk
dan darah yang keluar tak sebanding sakit pedihnya luka

kalau nanti aku tinggalkan tubuh ini
siapa mau minta atau mencurinya ambillah
tapi tak satupun yang hendak
tapi tak satupun yang menjamah
karena lukanya bernanah dan berbau busuk
namun biliknya kebaikan masihlah terpelihara
meski darah tercecer disetiap sudutnya
mirip peluh ketika panas menyengat pekerja pakasa

tubuh ini mulai hancur layaknya bangkai korban bom atom
dalam bilik ini aku masih mengingat tuhan
meski darah yang keluar tak sanggup aku hentikan
meski nanah yang busuk tak sanggup aku basuh
siapa yang meminta dan mencuri tubuh ini
ambillah namun jangan kau sentuh hatiku

25-01-2007


CATATAN

Rangka ceking bermata galak
Jangan ucapkan itu lagi dan tolong
Jangan sentuh jasadku
Sebut namaku saja dalam geram erangmu
Entah sampai bila masanya
Napas terletak masih disitu
Ubun-ubunku masih berbernyanyi
Dendangkan zikir
Belum saatnya disambut bunga bunga

09-12-2006


SENYUM

Saat aku nikmati senyumnya tadi
Patah jua waktu
Teringat aku akan esok pagi
Yang entah kepan bertmu
Dan langkahku takkan begitu saja patah
Saat aku nikmati senyumnya
Tak layu tak mengulai
Itulah titian berjalan akan kulewati sendiri
Keindahan pada cahaya kedua pipimu
Sudahku cicipi dalam mimpi tadi malam
Cinta ini mulai tumbuh jadi cambah akarnya melilit
Saraf dan keluar di pori pori tubuh ini
Menambatkan aku kokoh dalam kasih sayang untukmu
Saat aku nikmati senyumnya
Damai hidupku

27-04-2005


ASAKU

Angin menerpaku ragu
Api takutkan bakarku
Air bimbang basahkanku
Rinduku padamu telah ku kirim lewat angin
Agar kau tau betapa inginnya aku memelukmu

Pantai cermin,l6 4 2005


WAJAH HATI

Waktu ku coba singkatknmu
Langit tak bolehkan aku
Tadi malam aku ukirkan kerinduan
Tak disampaikan angin kepadamu?
Sudah kepakkan terbang harapan
Akankah kau tahu aku
Sayang padamu
Tak cukup tingkah saja
Tetaplah kau disitu
Di wajah pelangi beku
Kau jatuhkan aku dalam air matamu

Pantai cermin,l6 4 2005


MAHKOTA

Walau kau bersembunyi dalam sepi
Mereka juga dapati tubuhmu telanjang tak punya malu
Jangan takut mereka takkan mengeti isi hatimu
Rohmu berdiri sebatang tunggal berjuta sedih
Tak ada suara meskipun setengah nada saja
Sudahlah
Jangan menangis lagi
Coba kau lihat langit hari ini ikut sedih
Tahu akan rasa
Perempuan yang kehilangan mahkota

06-04-2005


VAN DE BAS

Menjelang malam
Tuan resident kolonial gelisah

Waktu telah hancurkan kesabaran kami
Tak diam namun masih samar
Peluru saling tindih
Dan darah seolah kencing para binatang dari Amsterdam
Atau negaranya Hiroko
Tak tak lagi mencekam

Duduk saling bercakap
A
I
U
E
O
Luruskan niat
Satukan suara
Sumpah semangat juang para muda berkumandang
Kami bukan bayang yang turut pialang
Kami kokang siap terjang Van De Bas
Kemana pelosok tertindas
Kau cambuk ayah kami dalam letih
Anggur penghibur nafsu
Dari madu kehormatan ibu
Takkan mampu kau hidangkan pada pesta malam
28 Oktober 80 tahun yang lalu
Langkahpun kami ayun berdebu
Tuk tinggalkan ini sesuatu
Tak kenang tak tanda jasa
Merdeka

28-10-2008


LUKISAN KARYA IBU

Air mata yang mengalir dipipi lusuh
Kering disapu angin terpahat seperti lukisan kehidupan yang penuh kenangan
Dendang-dendang yang terlupakan

Saat ini aku merindukan ibu
Kasih sayang kuteguk saat aku hanya punya gusi hingga ditinggalkan gigi
Telah pula kupahami tulusnya lewat lukisan yang kau pahat dengan air matamu
Jiwa ini kau siram ketika kering kerontang dalam dada
Zikir panjang ketika aku tertidur dipangkuanmu
Pula menghibur hari-hariku

Aku merindukanmu...
Lukisan ini kau buat jauh sebelum Hawa melahirkan putra putrinya

06-04-2010


DURI DAN MELATI

Aku patahkan duri kemudian kurekatkan pada melati
Ku cari diri yang dibawa sepi
Melewati jalan berduri
Sampai kementari dan kembali lagi
Tak kutemukan melati berduri
Bukan pula sepi yang membawa diri

19-04-2010

Senin, 05 April 2010

TAK BERMAKNA

Aku akan mengajakmu ke tepi laut
Agar aku bisa melintas di hatimu
Perlahan aku menjatuhkan tubuhku, telentang melihat langit berwarna ungu
Lalu kau berpaling dan berucap "tak ada keindahan" Aku butuhkan cermin mengaca diri, melihat tapak pada hari-hari sufi
Jangan takut aku masih belum mengerti
Kalau aku kembali menjumpaimu di pinggir senja
Kau akan sesali keindahan di langit berwarna ungu
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India